Sudah beberapa pekan terakhir omzet penjualan batik Pekalongan, mengalami kemerosotan sekitar 50 persen. Kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi membuat daya beli masyarakat berkurang.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Kabupaten Pekalongan, Failasuf mengatakan kondisi perbatikan relatif lengang dan sepi pembeli. Sehingga omzet penjualan batik turun.
"Naiknya harga bahan baku batik dan turunnya daya beli masyarakat terkait kenaikan harga BBM bersubsidi relatif berpengaruh besar terhadap usaha perbatikan," katanya dilansir Antara, Minggu (7/12).
Naiknya harga BBM bersubsidi kini juga telah diikuti dengan kenaikan harga bahan baku batik. Semisal kain dan obat batik yang mengalami kenaikan hingga 10 persen.
"Kain sutra semula Rp 100.000 per meter kini naik sekitar Rp 110.000/ meter. Oleh karena itu, kami harus pandai berupaya bagaimana usaha kerajinan batik ini bisa tetap bertahan di tengah menurunnya daya beli masyarakat," katanya.
Pengrajin batik tidak hanya dihadapkan pada persoalan kenaikan harga bahan baku kain, obat batik, dan BBM saja melainkan juga naiknya tarif dasar listrik, pajak, serta upah pekerja.
"Biaya operasional batik kian banyak dan membengkak tetapi daya beli masyarakat menurun. Hal inilah yang harus dihadapi perajin batik bagaimana agar usahanya tetap bertahan," katanya.
Untuk mengatasi persoalan yang dihadapi pelaku usaha batik, pemerintah dinilai perlu memberikan kompensasi pada dunia perbatikan agar kestabilan usaha mereka tetap terjaga.
"Kompensasi itu bisa berupa subsidi bahan baku. Kami berharap pada pemerintah mampu mengatasi persoalan yang sedang dihadapi pelaku usaha batik," katanya.
